WARALABA

Mengembangkan usaha tidak harus dilakukan sendiri. Nama besar atau jasa serta kemampuan (pemasaran,produksi,keuangan dan SDM) yang handal dapat “dijual” ke investor untuk menjadi mitra dalam mengembangkan bisnis kita. Waralaba atau franchise menjadi salah satu pola pengembangan bisnis yang dapat dilakukan.

Penduduk yang besar menjadi indikator awal konsumen yang besar. Daya beli yang kuat dari konsumen dan keberhasilan pebisnis untuk mengenalkan, mempengaruhi, dan mendorong terjadinya pembelian dari konsumen akan menjadi kunci sukses penjualan. Produk konsumsi dapat menjadi entry point bagi pebisnis untuk memilih jenis produk yang dikembangkan dengan pola bisnis waralaba, karena produk konsumsi sangat menjanjikan pasarnya mengingat konsumennya yang besar.

Kita dapat lihat bisnis produk-produk Waralaba asing dalam makanan cepat saji seperti Mc donald, Kentucky Fried Chicken (KFC), dan PizzaHut yang tumbuh subur di Indonesia. Atau BreadTalk dengan gerai rotinya yang selalu ramai dengan pelanggannya di Mall Taman Anggrek, Mal Ciputra, Mal Kelapa Gading atau Plasa indonesia. Sedangkan dari Waralaba lokal juga berkembang sangat baik misalnya dari jasa kita kenal Taman Sari Royal Heritage Spa yang ada di Jakarta, Jambi, Garut, Anyer, Palembang, Pekanbaru serta dibeberapa negara misalnya China, Malaysia, Kanada dan Jepang.

Waralaba atau Franchisee adalah suatu bisnis yang didasarkan pada perjanjian dua pihak yaitu franchisor (pemilik hak) dan franchisee (yang diberi hak) untuk menjalankan bisnis dari franchisor menurut sistem yang ditentukan oleh franchisor. Franchisor dan franchisee tentunya berharap melalui kemitraan tersebut akan memperoleh keuntungan yang lebih besar dan resiko kegagalan yang minimal.

Ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh franchisee (yang diberi hak) diantaranya : Pertama, memiliki nama besar produk atau jasa dari franchisor. Keberhasilan bisnis franchisor menjadi alasan kuat bagi franchisee untuk menanamkan dananya. Kedua, memperoleh pelatihan manajemen (pemasaran, produksi, keuangan, dan SDM). Untuk mensukseskan bisnisnya franchisor memberikan bekal manajemen. Ketiga, memperoleh pendampingan manajemen dan dukungan promosi. Pada awal usaha biasanya franchisor masih melakukan pendampingan manajemen agar sistem yang digunakan berjalan sesuai rencana, dan dukungan promosi dilakukan untuk menunjukkan ke pasar bahwa bisnis tersebut masih dalam satu naungan. Keempat, memiliki sistem pemasaran yang telah teruji. Kelima, resiko kegagalan bisnis yang relatif rendah.

Meskipun demikian, franchisee perlu mencermati beberapa hal : Pertama, isi kontrak dengan franchisor. Isi kontrak akan mengikat franchisee, oleh karenanya harus dicermati agar tidak merugikan. Jika perlu konsultasi dengan ahli hukum untuk memastikan tidak ada isi dalam kontrak yang menjebak. Kedua, daya saing produk atau jasa. Persaingan yang tajam dalam dunia bisnis mengharuskan calon franchisee mampu menghitung daya saing produk atau jasa yang dijual. Ketiga, jumlah franchisee dalam pasar sasaran. Persaingan pasar dapat terjadi antar franchisee dari satu franchisor. Oleh karenanya mintalah hak monopoli dari franchisor untuk pasar sasaran tertentu, agar lebih menjamin perkembangan bisnisnya. Sedangkan kewajiban yang biasanya harus dilakukan oleh franchisee adalah : Pertama, menyetorkan modal awal ke franchisor. Kedua, membayar royalti. Ketiga, menyiapkan kelengkapan operasional (ruang, meja, rak, komputer dll). Keempat, sharing biaya promosi dengan franchisor.

Meskipun waralaba terlihat cukup menjanjikan tetapi investor tetap harus berhati-hati dan cermat melihat dan mengkalkulasi plus minus pola bisnis waralaba tersebut. Jangan sampai keinginan investor untuk menanamkan dananya agar memperoleh keuntungan berubah menjadi kerugian dan terjebak dalam kesulitan jangka panjang.

Kecernatan membaca peluang, mengkalkulasi keuntungan serta berdisiplin dalam kerja menjadi senjata utama bagi pebisnis meraih kesuksesan.

(sumber : SKH Kedaulatan Rakyat)

%d blogger menyukai ini: