MENULIS SURAT LAMARAN KERJA YANG EFEKTIF

Berapa banyak sih surat lamaran kerja yang telah anda layangkan ke pelbagai perusahaan dan kantor-kantor?. Lalu apa ada kabar balik dari perusahaan atau kantor-kantor tersebut? apalagi dipanggil untuk tes ini itu?. Jangan-jangan surat pemberitahuan penolakan pun tak pernah di terima. Pasti anda akan jengkel, dongkol dan akhirnya sering uring-uringan terhadap diri sendiri.

Mau memasukkan satu berkas surat lamaran kerja yang baru, rasanya tidak yakin setelah gagal berkali-kali. Anda mungkin jadi berpikir apa ada yang salah ya dengan format, isi, gaya bahasa atau cara penulisannya.

Mari kita lihat sebuah contoh ilustrasi kasus penulisan surat lamaran yang tidak efektif berikut ini menjadi penulisan surat lamaran yang efektif menurut seorang pakarnya.

Si Fulan pada surat lembar pertama menulis seperti ini. Di kertas bagian kanan atas, ia menuliskan 3 baris alamat rumahnya secara lengkap dengan font yang lebih kecil dari yang lainnya. Lalu, tanggal pembuatan surat ia tulis 2 spasi di bawah alamat tersebut. Di sebelah kiri, sejajar dengan tulisan tanggal, ia menulis alamat tujuan secara lengkap dan benar. Ungkapan salam, tertulis 3 spasi di bawah alamat tujuan. Kemudian di bawah ungkapan salam, ia tuliskan isi surat yang terbagi atas 3 alinea kecil. Alinea pertama berisi pernyataan bahwa yang bertanda tangan di bawah ini saya, nama, alamat, dan lain sebagainya. Alinea kedua berisi pernyataan maksud dan tujuan. Dan terakhir, alinea ketiga berisi harapan yang terungkap dengan kata-kata: “besar harapan kami untuk dapat diterima bekerja di ….. yang bapak pimpin ini ….” dan seterusnya sampai kalimat penutup yang berbunyi “Sekian terima kasih atas perhatiannya.”. Di sebelah kiri bawah isi 3 alinea tadi, ia menuliskan salam penutup. Tanda tangan dan nama terang tertulis di bawah salam penutup.

Sekilas, surat lamaran kerja si Fulan tampak sempurna. Kertas putih bersih. Penulisan rapi, tanpa ada salah ketik. Bahasa standar dan formal. Isi singkat, padat tidak bertele-tele. Format atau tata letak baik dan benar. Tampaknya ia memilih full block style, gaya Amerika yang memang sedang ngetrend di dunia korespondensi perkantoran atau perusahaan saat ini. Namun, apabila diamati, isi surat yang terdiri 3 alinea tersebut si Fulan terkesan old fashioned, tidak konsisten, tidak memiliki sesuatu yang diharapkan oleh perusahaan, dan kurang paham tentang proses rekrutmen pegawai. Wajar, konsekuensi dari peran sebuah surat. Representasi self expression atau cerminan diri. Mari kita simak satu persatu kelemahan isi surat si Fulan yang akhirnya merugikan dirinya sendiri.

Pada alinea pertama, tulisan “saya yang bertanda tangan di bawah ini, nama, alamat, dan lain sebagainya” saat ini sudah tidak pernah dipakai lagi pada surat lamaran kerja. Ungkapan tersebut mulai ditinggalkan sekitar 1980-an sejak penulisan Dutch Style tergeser American Style. Disinilah, si Fulan terkesan old fashioned, ketinggalan jaman. jika konsisten dengan penulisan gaya Amerika, mustinya pada alinea pertama ia langsung menulis maksud dan tujuan. Bila didahului dengan kalimat pembuka, misalnya: “Saya mengetahui lewat iklan yang dimuat pada harian ABC tanggal 1 Juli 2007, bahwa bank yang bapak pimpin saat ini sedang membutuhkan karyawan baru untuk posisi customer service. Saya sangat tertarik. Oleh karenanya dengan ini perkenankanlah saya melamar posisi jabatan yang bapak tawarkan tersebut….”

Alinea kedua adalah tempat yang tepat untuk ekspresi promosi diri. Semua pengetahuan dan keterampilan, baik yang diperoleh lewat pendidikan, pelatihan, atau bahkan bersifat otodidak sangat perlu diungkapkan. Tulis pula pengalaman-pengalaman yang menunjang serta karakteristik pribadi yang menonjol sesuai dengan syarat-syarat seorang customer service. Bagianinilah biasanya yang menjadi fokus perhatian utama bagi selektor. Oleh sebab itu bagi pelamar kerja, bagian ini harus dianggap sebagai ajang promosi diri.

Alinea ketiga memang biasanya berisi pernyataan harapan. Perlu dihindari pernyataan harapan yang bersifat konyol dan memaksa. Terkesan seolah-olah tidak tahu tentang proses rekrutmen pegawai. Apa yang ditulis si Fulan dalam alinea ketiganya: “besar harapan saya untuk dapat diterima bekerja ….” adalah salah satu contoh harapan yang kurang pas, konyol. Bukankah sebelum diterima menjadi karyawan, pelamar harus lebih dahulu melakukan serangkaian tahapan kegiatan termasuk salah satunya mengikuti serangkaian tes rekrutmen?. Maka harapan tersebut akan lebih tepat dan benar jika diungkapkan antara lain demikian: “besar harapan saya untuk dapat diikutsertakan dalam tes-tes rekrutmen yang ada bersama kandidat-kandidat yang lain ….”

Ungkapan ini rasanya terkesan lebih elegan dan menyiratkan bahwa penulis paham terhadap apa yang dihadapinya. Itulah surat lamaran kerja yang efektif, dengan 3 alinea yang merupakan isi mustinya mampu menjabarkan fungsi dari sebuah surat lamaran kerja, memohon dan sekaligus memproklamirkan diri siap untuk berkarya. Semoga bermanfaat.

(diolah dari SKH Kedaulatan Rakyat)

%d blogger menyukai ini: